Vytha's blog

it's all about anime and latest korean

Prosedur Pelayanan Rawat Inap Untuk Pasien Asuransi Dan Non Asuransi


Nama : Respita Susanti

Nim: 20160301170

 

Prosedur Pelayanan Rawat Inap Untuk Pasien Asuransi Dan Non Asuransi

 

  • Pengertian pelayanan rawat inap

Rawat inap adalah adalah pemeliharaan kesehatan rumah sakit yang menempatkan penderita sedikitnya satu hari tinggal/mondok di rumah sakit berdasarkan rujukan dari pelaksana pelayanan rumah sakit atau pelaksana pelayanan kesehatan lainnya.

Pelayanan rawat inap merupakan salah satu unit pelayanan di rumah sakit yang memberikan pelayanan secara komprehensif untuk membantu menyelesaikan masalah yang dialami oleh pasien, dimana unit rawat inap merupakan salah satu revenew center rumah sakit sehingga tingkat kepuasan pelanggan atau pasien bisa dipakai sebagai salah satu indikator mutu pelayanan (Nursalam, 2001)

Pelayanan  rawat ` inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di rumah sakit yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya. Rawat inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi observasi, pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medik dengan menginap di ruang rawat inap pada sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta, serta puskesmas dan rumah bersalin yang oleh karena penyakitnya penderita harus menginap dan mengalami tingkat transformasi, yaitu pasien sejak masuk ruang perawatan hingga pasien dinyatakan boleh pulang (Muninjaya, 2004).

Menurut Supranto (1997), alur pelayanan pasien rawat inap dimulai dari pelayanan pasien masuk di bagian penerimaan pasien, pelayanan ruang perawatan (pelayanan tenaga medis, pelayanan tenaga perawat, lingkungan langsung, penyediaan peralatan medis/ non medis, pelayanan makanan/ gizi), dilanjutkan pelayanan administrasi dan keuangan, terakhir pelayanan pasien pulang

Pelayanan rawat inap adalah pelayanan terhadap pasien masuk rumah sakit yang menempati tempat tidur perawatan untuk keperluan observasi, diagnosa, terapi, rehabilitasi medik dan atau pelayanan medik lainnya (Depkes RI 1997 yang dikutip dari Suryanti (2002)).

 

  • Tujuan pelayanan rawat inap

 

Tujuan rawat inap spesifik, terbatas, adalah: Menilai kemajuan penyakit dan kemungkinan kejadian yang mengancam jiwa pada puncak penyakit Mecegah atau mengobati komplikasi Mendidik orang tua pada riwayat alamiah penyakit dan pada perawatan yang akan diberikan di rumah Manfaat rawat inap adalah penggantian biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit yang membutuhkan rawat inap (opname). Penggantian yang dijamin oleh manfaat rawat inap antara lain biaya akomodasi ruangan termasuk unit rawat intensif, jasa kunjungan dokter ruangan termasuk dokter spesialis, biaya tindakan bedah termasuk jasa dokter, dokter anastesi juga kamar operasi. Beberapa perusahaan asuransi memperluas manfaat rawat inap ini dengan perawatan di rumah, layanan ambulan, dan lain-lain. Baik untuk manfaat rawat Jalan maupun rawat inap biasanya dikenakan batasan maksimum (Plafon) yang bisa digunakan dalam setiap periode.Adapun tujuan pelayanan rawat inap yaitu:

  1. Membantu penderita memenuhi kebutuhannya sehari-hari sehubungan dengan penyembuhan penyakitnya.
  2. Mengembangkan hubungan kerja sama yang produktif baik antara unit maupun antara profesi.
  3. Menyediakan tempat/ latihan/ praktek bagi siswa perawat.
  4. Memberikan kesempatan kepada tenaga perawat untuk meningkatkan keterampilannya dalam hal keperawatan.
  5. Meningkatkan suasana yang memungkinkan timbul dan berkembangnya gagasan yang kreatif.
  6. Mengandalkan evaluasi yang terus menerus mengenai metode keperawatan yang dipergunakan untuk usaha peningkatan.
  7. Memanfaatkan hasil evaluasi tersebut sebagai alat peningkatan atau perbaikan praktek keperawatan dipergunakan.

 

  • Standar pelayanan rawat inap

Menurut Keputusan Menteri kesehatan Nomor : 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, standar minimal rawat inap di rumah sakit adalah sebagai berikut:

  1. Pemberi pelayanan di Rawat Inap adalah Dokter spesialis, dan perawat dengan minimal pendidikan D3.
  2. Dokter penanggung jawab pasien rawat inap 100 % adalah dokter
  3. Ketersediaan Pelayanan Rawat Inap terdiri dari anak, penyakit dalam, kebidanan, dan bedah.
  4. Jam Visite Dokter Spesialis adalah pukul 08.00 – 14.00 setiap hari kerja.
  5. Kejadian infeksi pasca operasi kurang dari 1,5 %.
  6. Kejadian Infeksi Nosokomial kurang dari 1,5 %.
  7. Tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakibat kecacatan / kematian  100% terpenuhi
  8. Kematian pasien > 48 jam kurang dari 0,24 %.
  9. Kejadian pulang paksa kurang dari 5 %.
  10. Kepuasan pelanggan lebih dari 90 %.
  11. Penegakan diagnosis TB melalui pemeriksaan mikroskopis TB lebih dari 60% dan terlaksanana kegiatan pencatatan dan pelaporan TB di Rumah Sakit  juga lebih dari 60%
  12. Ketersediaan pelayanan rawat inap di rumah sakit yang memberikan pelayanan jiwa  terdiri dari NAPZA, Gangguan Psikotik, Gangguan Nerotik,  dan Gangguan Mental Organik
  13. Tidak adanya kejadian  kematian pasien gangguan  jiwa karena bunuh diri 100%
  14. Kejadian re-admission pasien gangguan jiwa dalam waktu ≤ 1 bulan adalah 100%
  15. Lama hari perawatan  pasien gangguan jiwa kurang dari 6 minggu.

 

  • Indikator Mutu Pelayanan Rawat Inap

Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat inap :

  1. BOR (Bed Occupancy Ratio= Angka penggunaan tempat tidur)
    BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days to inpatient bed count days in a period under consideration”. Sedangkan menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).

 

Rumus

BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X Jumlah hari dalam satu periode)) X 100%

 

  1. AVLOS (Average Length of Stay= Rata-rata lamanya pasien dirawat)
    AVLOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization stay of inpatient discharged during the period under consideration”. AVLOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).

Rumus:

AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

 

  1. TOI (Turn Over Interval= Tenggang perputaran)
    TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.

Rumus:

TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah pasien keluar (hidup +mati)

 

  1. BTO (Bed Turn Over= Angka perputaran tempat tidur)
    BTO menurut Huffman (1994) adalah “…the net effect of changed in occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005) adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.

Rumus:

BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur

  1. NDR (Net Death Rate)

NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.

Rumus:

NDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup + mati) ) X           1000 ‰

  1. GDR (Gross Death Rate)

GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap 1000 penderita keluar.

Rumus:

GDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)) X 1000 ‰

 

  • Prosedur dan prinsip Pelayanan Rawat Inap Di Rumah Sakit

Menurut Revans (1986) bahwa pasien yang masuk pada pelayanan rawat inap akan mengalami tingkat proses transformasi, yaitu:

  1. Tahap Admission, yaitu pasien dengan penuh kesabaran dan keyakinan dirawat  tinggal di rumah sakit.
  2. Tahap Diagnosis, yaitu pasien diperiksa dan ditegakan diagnosisnya. Tahap Treatment,yaitu berdasarkan diagnosis pasien dimasukan dalam program perawatan dan therapi.
  3. Tahap Inspection, yaitu secara continue diobservasi dan dibandingkan pengaruh serta respon pasien atas pengobatan.
  4. Tahap Control, yaitu setelah dianalisa kondisinya, pasien dipulangkan. pengobatan diubah atau diteruskan, namun dapat juga kembali ke proses untuk didiagnosa ulang.
  • Prosedur Klaim Asuransi Kesehatan

Banyak orang mengeluh betapa sulitnya mengurus klaim asuransi kesehatan. Bahkan tidak jarang kita bisa menemukan di banyak surat kabar yang memuat kolom surat pembaca berbagai keluhan konsumen terhadap proses klaim asuransi yang berbelit-belit juga memakan waktu. Karena itu, dalam pengajuan klaim asuransi kesehatan agar berjalan lancar, perlu diketahui langkah-langkahnya. Beberapa info yang harus diketahui dalam mengajukan klaim manfaat rawat Jalan dan rawat inap, diantaranya: Setelah pengobatan dan pengambilan obat selesai, ajukan klaim ke perusahaan asuransi selambat-lambatnya 30 hari sejak tanggal yang tertera pada kuintansi. Sertakan kuitansi asli, bukan fotocopy Sediakan sejumlah uang dimuka untuk membayar biaya berobat. Dalam kondisi emergency, asuransi kesehatan dengan system kartu bisa jauh lebih praktis dibandingkan system kartu hanya diterapkan dengan pihak rumah sakit yang menjadi mitra perusahaan asuransi saja.hanya diterapkan dengan pihak rumah sakit yang menjadi mitra perusahaan asuransi saja.

 

  • Prosedur Pelayanan Rawat Inap Di Rumah Sakit
  1. Pasien yang membutuhkan perawatan inap atas sesuai indikasi medis akan mendapatkan surat perintah rawat inap dari dokter spesialis RS atau dari UGD
  2. Surat perintah rawat inap akan ditindak lanjuti dengan mendatangi bagian pendaftaran untuk konfirmasi ruangan sesuai hak peserta dengan membawa KPK asli dan fotocopy sehingga peserta bisa langsung dirawat
  3. Bila ruang perawatan sesuai hak peserta penuh, maka ybs berhak dirawat 1 (satu) kelas diatas/dibawah haknya. Selanjutnya peserta dapat pindah menempati kamar sesuai haknya dan bila terdapat selisih biaya yang timbul maka peserta membayar selisih biaya perawatan
  4. Bagian Pendaftaran rawat inap di RS akan menerbitkan Surat Keterangan Perawatan RS dan selanjutnya akan diteruskan ke Kantor Cabang PT Jamsostek (Persero) dapat melalui faksimil agar segera dapat diterbitkan surat jaminan rawat inap
  5. Bidang Pelayanan atau Bidang Pelayanan JPK Kantor Cabang PT Jamsostek akan menerbitkan Surat Jaminan Rawat Inap berdasarkan Surat Keterangan Perawatan RS dan akan dikirim melalui faksimil ke RS. Surat jaminan harus sudah diurus selambat-lambatnya 2×24 jam terhitung peserta rawat inap di rumah sakit
  6. Bila pasien membutuhkan pemeriksaan penunjang diagnostik lanjutan atau tindakan medis, maka yang bersangkutan harus menandatangani Surat Bukti Pemeriksaan dan Tindakan setiap kali dilakukan
  7. Setiap selesai rawat inap, peserta/orangtua peserta bersangkutan harus menandatangani Surat Bukti Rawat Inap dan pasien akan mendapatkan perintah untuk kontrol kembali ke spesialis yang bersangkutan
  8. Pasien akan membawa surat perintah kontrol kembali dari dokter spesialis ke dokter PPK I untuk mendapatkan Surat Rujukan  PPK I ke dokter spesialis di RS yang ditunjuk.
  9. Selanjutnya berlaku prosedur rawat jalan dokter spesialis di RS
  10. Jawaban rujukan dari dokter spesialis dapat diberikan kembali kepada dokter keluarga di PPK I

 

Daftar Pustaka

Adikoesoemo, Suparto. 2003. Manajemen Rumah Sakit. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Aditama, Yoga Tcandra. 2006. Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Edisi 2. Jakarta: UIPress.

Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan 3rd edition. Binarupa aksara.

http://tabrani.weblog.esaunggul.ac.id/2015/11/27/prosedur-pelayanan-rawat-inap-untuk-pasien-asuransi-dan-non-asuransi/

http://novariza12.blogspot.co.id/2015/11/prosedur-pelayanan-rawat-inap-non.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: