Vytha's blog

it's all about anime and latest korean

Pelayanan Gawat Darurat Yang Baik


Nama : Respita Susanti
Nim : 20160301170
Manajemen Pelayanan RS 1039-Mulyo Wiharto Seksi 11

A. Pengertian

Pelayanan gawat darurat (emergency care) adalah bagian dari pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera (imediately) untuk menyelamatkan kehidupannya (life saving). Instalasi kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan gawat darurat disebut dengan nama Instalasi Gawat Darurat (emergency unit). Tergantung dari kemampuan yang dimiliki, keberadaan IGD tersebut dapat beraneka macam, namun yang lazim ditemukan adalah yang tergabung dalam rumah sakit (hospital based emergency unit). Hanya saja betapapun telah majunya sistem rumah sakit yang di anut oleh suatu negara, bukan berarti tiap rumah sakit memiliki kemampuan mengelola IGD sendiri, untuk mengelola kegiatan IGD memang tidak mudah penyebab utamanya adalah karena IGD adalah salah satu dari unit kesehatan yang padat modal, padat karya dan padat teknologi (Margaretha, 2013).
Sekalipun diakui tidak semua rumah sakit memiliki kemampuan menyelenggarakan IGD, bukan lalu berarti ketidak adaan IGD di suatu hidup dan kehidupan, keberadaan suatu IGD di setiap komunitas telah merupakan salah satu kebutuhan pokok. Dalam keadaan dimana tidak satupun rumah sakit mampu menyelenggarakan pelayanan IGD, biasanya terdapat semacam peraturan yang mewajibkan adanya kerjasama antar rumah sakit. Dalam keadaan yang seperti ini, salah satu rumah sakit menyediakan diri untuk mengelola IGD, untuk kemudian dapat dimanfaatkan secara bersama
B. Tujuan
Tujuan dari pelayanan gawat darurat ini adalah untuk memberikan pertolongan pertama bagi pasien yang dating dan menghindari berbagai resiko, seperti: kematian , menanggulangi korban kecelakaan, atau bencana lainnla yang langsung membutuhkan tindakan.
Pelayanan pada Unit Gawat Darurat untuk pasien yang datangakan langsung dilakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya. Bagi pasien yang tergolong emergency (akut) akan langsung dilakukan tindakan menyelamatkan jiwa pasien (life saving). Bagi pasien yang tergolong tidak akut dan gawat akan dilakukan pengobatan sesuai dengan kebutuhan dan kasus masalahnya yang setelah itu akan dipulangkan kerumah.
Berdasarkan definisi dari pelayanan gawat darurat maka tujuan utama dari pelayanan gawat darurat yaitu :
1. Mencegah kematian dan kecacatan yang mungkin terjadi pada penderita.
2. Menanggulangi fase emergency.
3. Menerima rujukan penderita khususnya dengan masalah psikiatri.
4. Penanggulangan korban bencana (Disaster).
5. Pengembangan dan menyebarluaskan ilmu kedokteran kegawat daruratan.

 

C. Kegiatan
Kegiatan yang menjadi tanggung jawab Instalasi Gawat Darurat (IGD)banyak macamnya, secara umum dapat dibedakan atas tiga macam (Djemari, 2011) :
a. Menyelenggarakan Pelayanan Gawat Darurat
Kegiatan pertama yang menjadi tanggung jawab Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah menyelenggarakan pelayanan gawat darurat. Pelayanan gawat darurat sebenarnya bertujuan untuk menyelamatkan kehidupan penderita (life saving) sering dimanfatkan hanya untuk memperoleh pelayanan pertolongan pertama (first aid) dan bahkan pelayanan rawat jalan (ambulatory care).
Pengertian gawat darurat yang di anut oleh anggota masyarakat memang berbeda dengan petugas kesehatan. Oleh anggota masyarakat setiap gangguan kesehatan yang dialaminya dapat saja di artikan sebagai keadaan darurat (emergency) dan karena itu mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk meminta pertolongan. Tidak mengherankan jika jumlah penderita rawat jalan yang mengunjungi Instalasi Gawat Darurat (IGD) dari tahun ke tahun tampak semakin meningkat.
b. Menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan rawat inap intensif.
Kegiatan kedua yang menjadi tangung jawab Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan intensif. Pada dasarnya kegiatan ini merupakan lanjutan dari pelayanan gawat darurat yakni dengan merujuk kasus-kasus gawat darurat yang di nilai berat untuk memperoleh pelayanan rawat inap yang intensif. Seperti misalnya Unit Perawatan Intensif (intensive care unit), untuk kasus-kasus penyakit umum, serta Unit Perawatan Jantung Intensif (intensive cardiac care unit) untuk kasus-kasus penyakit jantung, dan unit perawatan intensif lainnya.
c. Menyelenggarakan pelayanan informasi medis darurat.
Kegiatan ketiga yang menjadi tanggung jawab Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah menyelenggarakan informasi medis darurat dalam bentuk menampung serta menjawab semua pertanyaan anggota masyarakat yang ada hubungannya dengan keadaan medis darurat (emergency medical questions).
Pelaksanaan pelayanan gawat drurat adalah Menyelenggarakan pelayanan gawat darurat, menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan rawat inap intensif serta menyelenggarakan pelayanan informasi medis darurat.

 

D. Prosedur
Menurut Apriyani (2008) adapun adapun Prosedur Pelayanan Gawat Darurat adalah :
1. Pasien masuk ruang gawat darurat.
2. Pengantar mendaftar ke bagian administrasi (front liner)
3. Instalasi Gawat Darurat (IGD) menerima status pasien dari rekam medik dan map plastik merah.
4. Paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien.
5. Paramedik dan dokter melakukan tindakan yang diperlukan sesuai SPM emergensi dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan di setujui oleh pasien/keluarga (informed consent).
6. Bila pasien menolak pemeriksaan dan atau tindakan (medik, penunjang, ranap), pasien/keluarga menandatangani surat penolakan.
7. Pasien tanpa pengantar dan dalam kondisi tidak sadar, dokter atau paramedis berhak melakukan tindakan penyelamatan bila terdapat kondisi yang mengancam jiwa pasien.
8. Bila diperlukan pemeriksaan penunjang, dokter membuat pengantar ke unit terkait dan mengonfirmasi lewat telpon, pengambilan sampel laboratorium dilakukan di ruang gawat darurat, untuk pemeriksaan rontgen, paramedik mengantarkan pasien ke unit radiologi.
9. Dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan disetujui oleh pasien/keluarga (informed consent).

 

E. Kriteria Pelayanan Gawat Darurat
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 856/ Menkes/ SK/IX/2009. Standar Instalasi Gawat Darurat (IGD), Kriteria Pelayanan Gawat Darurat adalah
1. Rumah Sakit menyelenggarakan pelayanan gawat darurat secara terus menerus selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu.
2. Ada instalasi / unit gawat darurat yang tidak terpisah secara fungsional dari unit-unit pelayanan lainnya di rumah sakit.
3. Ada kebijakan / peraturan / prosedur tertulis tentang pasien yang tidak tergolong akut gawat akan tetapi datang untuk berobat di instalasi / unit gawat darurat.
4. Adanya evaluasi tentang fungsi instalasi / unit gawat darurat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
5. Penelitian dan pendidikan akan berhubungan dengan fungsi instalasi / unit gawat darurat dan kesehatan masyarakat harus diselenggarakan.

Sumber :
RSIA BUNDA Jakarta. Unit Gawat Darurat 24 Jam [dikutip 31 maret 2017]. Diperoleh dari : http://bunda.co.id/rsiabundajakarta/id_ID/facilities-and-services/support-facilities/unit-gawat-darurat-24-jam/
RSJD Surakarta. Instalasi Gawat Darurat [dikutip 31 maret 2017]. Diperoleh dari : http://rsjd-surakarta.jatengprov.go.id/instalasi-gawat-darurat
Universitas Sumatera Utara. [dikutip 31 maret 2017]. Diperoleh dari : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/49525/4/Chapter%20II.pdf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: